My Rainbow Dreams

Just Blogger Templates

Kamis, 07 Mei 2015

Ajari Aku Menjadi Pembohong Paling Sempurna

Semua benar-benar telah berakhir ketika aku takut untuk mengakhiri. Semua hilang, hancur berantakan. Tak tersisa. Padahal semua sudah begitu tersusun rapi sebelum semua ini terjadi. Tak mudah untuk mengakui bahwa ini cinta, rindu, sayang dan semacamnya. Tak semudah kamu meluluhlantahkan kepercayaanku. Kamu bilang bahwa kamu hanya akan pergi sebentar. Kamu juga meyakinkanku bahwa akan menjaga semuanya termasuk perasaanku yang paling dalam. Tapi sekarang kamu sudah menunjukkan kejahatanmu bahkan lebih jahat dari penjahat kelas kakap sekalipun.

Setega ini kamu melakukannya. Kamu berdusta untuk meraih hatiku, mengambil kebahagiaanku dan menghempaskan begitu saja. Apa salahku?


Iya, aku ingat. Dulu aku pernah mengabaikanmu. Ya, aku pernah mengabaikanmu sampai-sampai semua orang menganggapku paling jahat. Aku juga tertekan saat itu. Tapi sekarang siapa yang jahat? Aku? Kamu?
Bukan aku yang akan menjawab, tapi orang-orang yang sudah mengenal aku dan kamu.

Serapi ini kamu menyembunyikan semuanya. Tolong ajari aku bagaimana cara menjadi pembohong paling sempurna. Ajari aku juga bagaimana cara menunjukkan muka memelas hanya untuk mengemis perhatian. Ah, ternyata aku tak sepintar kamu. Bersandiwara seperti ini dengan jurus kata-kata cinta manis dan perjuangan super baja yang kamu ucap dan lakukan. Aku sudah terlanjur terjerat. Kamu sudah terlalu jauh membawaku melangkah hingga aku lupa untuk berbalik arah.

Lain kali sayang, jika kamu akan melakukan kebohongan yang besar jangan lakukan itu kepadaku. Bukankah bangkai yang disembunyikan juga akan tercium baunya? Aku juga sudah pernah bilang dan memperingatkanmu bahwa aku adalah mata-mata yang baik. Tapi kamu tidak pernah menggubrisnya. Ternyata kita saling melengkapi ya. Kamu penjahatnya dan aku mata-matanya.
Sempat terlintas di pikiranku. Berusaha menjadi baik saja banyak yang jahat, apa aku harus menjadi orang jahat agar tak ada yang jahat kepadaku? Ternyata tidak. Semua itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Lagi pula kedua orang tuaku tidak pernah mengajariku untuk membalas sesuatu dengan hal yang tidak baik. Kenyataannya semua sudah berakhir sampai di sini saja. Tidak ada lagi kita, kenangan kita, canda tawa kita yang kadang kelewat batas. Kini aku akan melepaskanmu karena kamu memang tak berhak meraih cintamu di saat kamu sudah punya cinta yang lain. Aku tak seegois itu. Tidak ada lagi yang harus dibicarakan katamu. Semua tentang kita kamu titipkan padaku. Enak saja. Aku akan mengubur semuanya. Sama seperti yang kamu lakukan. Hanya saja aku butuh waktu.
Salam dariku, peri kecilmu yang akan segera menjadi peri kecil orang yg lebih tepat.

Rabu, 06 Agustus 2014

Tak Seindah Melodi Gitar






Aku sedikit mereka-reka apa yang akan ku bicarakan jika bertemu dengannya. Ku pacu sepeda motor yang selalu menemaniku lebih cepat, tentunya agar aku lebih lama bersamanya. Tak lupa, aku menilik kenangan yang telah berlalu. Memastikan bahwa rasa cinta yang pernah ada sudah hilang. Ternyata, semua rasa sakit itu masih menyisakan rasa yang tak pernah terlupakan. Teriknya matahari, kotornya debu jalanan yang beterbangan dan ramainya lalu lalang kendaraan tak sedikitpun menggoyahkan niatku untuk menemuinya. Aku benar-benar ingin tahu bagaimana keadaannya. Apakah dia benar baik-baik saja seperti yang ia utarakan dalam pesan singkatnya. Aku rindu.
Aku sudah sampai di mana kami akan bertemu. Tempat makan favorit aku dan dia di salah satu sudut Jogja. Kuamati sekeliling mencari seseorang yang kumaksud. Mungkin dia belum sampai. Langsung aku menuju meja yang masih kosong. Dada berdetak hebat. Tangan dingin dan berkeringat. Aku gugup.
"Kamu dimana dek, aku sudah sampai ini," begitu katanya dari ujung telfon.
"Aku sudah di dalam mas, langsung masuk saja aku pakai kemeja biru."
"Oke," balasnya singkat dan segera menutup telfonnya. Aku tak membayangkan bagaimana tegangnya mukaku. Ku tarik nafas perlahan lalu ku hembuskan lagi setidaknya ini mengurangi rasa gugupku.
"Sofi."
Ada suara yang tak asing menyapaku dari arah belakang. Suara yang hampir dua tahun ini kurindukan. Lembut dan penuh harap.
"Mas Seno, apa kabar? Duduk," ku balas sapaannya sambil kujabat tangannya.
"Tanganmu dingin, grogi ya ketemu aku?" begitu godanya.
"Ha. Ha. Ha. Enggak, tanganku memang sudah terbiasa seperti ini. Kenapa harus grogi bertemu denganmu mas." Sebisa mungkin aku mengelak. Padahal saat itu jantungku terasa berhenti berdetak untuk beberapa detik. Aku susah bernafas. Bagaimana tidak, yang berada di depanku adalah orang yang sangat aku rindukan. Orang yang sempat bersama-sama membangun impian yang sama. Meski semua impian sudah runtuh namun rasa cinta tak begitu saja luluh lantah. Justru rasa itu terus kokoh berdiri meski tuannya pergi tak kembali.
"Kamu sekarang sudah banyak berubah ya dek," katanya sambil mengamatiku.
"Enggak mas, aku masih sama seperti yang dulu. Mungkin karena kita sudah lama tidak bertemu," aku masih saja merendah. Perlahan suasanya mencair. Rasa canggung sedikit demi sedikit hilang. Ku lawan rasa sakit hati yang aku simpan rapat-rapat. Semua melebur dengan rasa rinduku yang membuncah. Hari itu, kuhabiskan waktu bersamanya.
"Dek, Jogja nampaknya kurang bersahabat denganku."
"Kenapa mas?" tanyaku.
"Dia tak kembali." Kali ini mas Seno menatapku sangat dalam. Aku bisa merasakan apa yang dia rasakan. Dia pasti merindukan kekasihnya. Pengganti diriku. Namun katanya penggantiku itu pergi entah kemana. Tanpa kabar. Tanpa berucap. Meninggalkan mantan kekasihku. Mas Seno.
"Rahma?" tanyaku memastikan. Ya, aku mengenal Rahma. Wanita itulah yang telah menggantikan posisiku membangun impian bersama Mas Seno.
"Kukira saat aku kembali lagi kesini dia akan menyambutku dengan hangat. Kukira aku akan bisa melihat tawanya lagi. Tapi ternyata dia serapuh ini. Dia menyerah dengan jarak yang menguji."
Tanpa rasa bersalah dia terus saja bercerita tentang kekasihnya dan tak sedikit pun menilik perasaanku, memperdulikan aku. Dia ditinggalkan ketika rasa sayangnya sedang menggebu-gebu. Sama seperti dia meninggalkanku dulu. Bedanya tak sedikitpun aku membencinya. Mungkin rasa cinta mengalahkan kebencian.
"Kamu mau menemaniku ke kosnya?"
"Untuk apa?"
"Aku akan mengembalikan barang yang sudah ia berikan untukku, setidaknya aku akan sedikit melupakannya."
Aku mengangguk tanda setuju. Tanpa memesan makanan atau minuman kami keluar dari tempat makan yang menyimpan banyak kenangan tentang aku dan Mas Seno. Sebelum menuju kos Rahma, aku dan Mas Seno menuju kos ku untuk menaruh sepeda motorku. Setelah sepeda motorku ku parkir di teras kos, kami bergegas. Dia memacu sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Siang itu Jogja tak begitu ramai. Masih sama seperti biasa. Aku masih diam, merasa cemburu.
"Kamu ngga kenapa-kenapa dek?" tanyanya sambil mengarahkan spion sepeda motornya ke wajahku sehingga wajahku terlihat walaupun ia tak menoleh ke belakang.
"Enggak, aku nggak kenapa-kenapa mas," aku berkelit.
"Sepertinya kamu cemburu," begitu katanya diikuti gelak tawanya.
"Idiiih siapa yang cemburu? Enggak!"
"Bercanda dek."
Sebentar lagi kami akan sampai di kos Rahma. Memang benar aku cemburu. Tapi tidak mungkin aku akan berkata secara gamblang kepada Mas Seno. Kami berhenti di sebuah bangunan rumah dengan pagar yang besi yang besar. Iya, kos Rahma. Mesin motor dimatikan. Aku turun diikuti Mas Seno. Ku lihat dia berjalan ragu memasuki gerbang. Tapi aku juga melihat usaha kerasnya untuk melupakan penggantiku itu. Pelan tapi pasti dia melangkah. Sesekali menoleh kearahku dan tersenyum. Ku balas senyumannya. Getir. Kulihat dia menyerahkan bungkusan kepada seseorang tapi aku tahu itu bukan Rahma. Aku sedikit lega. Sebuah drama dimana aku, Mas Seno dan Rahma akan bertemu tak terjadi. Setidaknya aku tak akan menjadi sakit ketika melihat sebuah kenyataan di mana Mas Seno akan memeluk Rahma, meninggalkan ku di tempat itu. Ah, pikiranku melayang jauh.
"Sudah dek, sudah ku titipkan barang itu kepada temannya. Ayo naik, kita cari tempat yang enak buat ngobrol." Aku mengangguk sekenanya, masih menutupi rasa sakit yang tak bisa aku sembunyikan.
"Kita mau kemana mas?" tanyaku.
"Kemana saja yang penting sama kamu."
Sepeda motor kesayangannya terus saja membelah kota Jogja. Sepertinya aku tahu dimana tempat yang dia maksud. Alun-alun selatan Jogja. Salah satu sudutnya merupakan tempat favorit aku dan dia ketika sore hari. Tempat sederhana menjadi istimewa jika bersama Mas Seno.
"Turun."
"Kita hanya di sini mas?" tanyaku meyakinkan.
"Iya," jawabnya singkat. Kemudian kami menuju tempat duduk yang masih kosong yang tersedia di pinggir alun-alun.
"Nanti kamu langsung pulang ke Semarang Mas?"
"Iya, keluargaku pasti sudah menunggu di sana."
"Lalu kapan kamu akan kembali ke sini?"
"Entah. Mungkin beberapa tahun lagi. Aku juga harus segera kembali ke Kalimantan."
"Kita selalu dipermainkan waktu," ucapku lirih dengan pandangan kosong lurus kedepan.
"Apa katamu?"
"Iya, kita selalu di permainkan waktu. Waktu selalu membatasi pertemuan kita."
Mataku berkaca-kata. Air matanya ingin keluar tapi kucegah. Ku seka lembut dengan tanganku agar tak menetes. Agar Mas Seno juga tak mengetahui jika aku terlalu dalam takut berpisah dengannya.
"Waktu bukan milik kita dek, kita hanya pemeran. Kita hanya manusia-manusia yang selalu menyalahkan waktu. Padahal waktu tak salah. Waktu tak bisa berhenti, tak bisa pula berjalan cepat ataupun lambat. Seharusnya kita yang bisa mengendalikan diri agar dapat beriringan dengan waktu. Semoga waktu bisa memberi kita kesempatan untuk bertemu lagi."
"Kapan?"
"Aku tak berhak menentukan."
"Semoga waktu selalu baik kepada kita, seperti Tuhan yang selalu baik kepada hamba-Nya."
Aku tak mampu melanjutkan kata-kataku. Aku takut air mata ini akan benar-benar jatuh terurai. Aku enggan pertemuanku dengan Mas Seno hari ini menimbulkan air mata. Kini mata kami lurus memandang ke arah dua beringin besar yang berada di tengah alun-alun.
Tak terasa senja mulai menyapa. Orang-orang mulai berdatangan untuk sekedar mencari hiburan. Ada yang membawa anaknya bermain sepeda, ada wisatawan yang mencoba melewati beringin kembar dengan mata tertutup, bahkan ada pula yang hanya duduk-duduk seperti kami. Mereka tampak senang. Berbeda denganku. Sebentar lagi akan berpisah dengan orang yang kusayang. Tak dapat ditentukan kapan lagi kami akan bertemu. Aku pasrah dengan hati yang luluh lantah.
"Sudah sore, ku antar kamu ke kos untuk mengambil sepeda motor. Aku juga harus segera pulang agar tak terlalu malam sampai Semarang." Aku hanya mengangguk. Dengan enggan aku berjalan menuju motor yang diparkir tak telalu jauh dari tempat kami duduk. Mas Seno memacu sepeda motornya dengan kecepatan pelan. Agar dapat menikmati sorenya Jogja sebelum ia pergi katanya.
"Kamu nanti hati-hati di jalan mas, jangan ngebut. Satu lagi kalau sudah sampai cepat hubungi aku."
"Iya dek. Kamu masih sama tak berubah."
"Maksudnya?" aku nampak bingung dengan pernyataan Mas Seno.
"Iya, kamu masih terlalu khawatir dengan ku," ucapnya singkat.
"Emm...." Belum sempat aku membela diri Mas Seno mengajukan pertanyaan yang sulit kujawab.
"Apa semua rasa sayangmu masih ada?"
Tentu. Semua rasa sayang itu masih utuh. Bahkan ketika dia bahagia dengan penggantiku, aku turut mendoakan. Ketika dia sedih aku lebih sedih. Ketika sakit aku pun ikut merasakan sakit itu. Tapi dia tak sadar. Dia tak pernah tau dan tak pernah mau tahu dengan keadaanku.
"Hah... Rasa sayang? Masih mas tapi lebih tepatnya sayang sebagai sodara hehehe...." Lagi-lagi aku berkelit. Satu alasannya. Aku tak mau semua rasa yang kusimpan rapi ini bertepuk sebelah tangan. Mencintai satu pihak. Aku enggan berjuang sendirian. Sama seperti dahulu ketika ia masih menjadi kekasihku.
"Sudah mas, fokus nyetir motornya," ku alihkan pembicaraan agar suasana kembali mencair.
"Sebentar lagi sampai."
"Iya," jawabku singkat.
"Terimakasih mas sudah mengantarku, terimakasih juga untuk hari ini."
"Sama-sama dek, semoga Jogja lekas bersahabat dengan ku ketika aku kembali lagi."
Perpisahan terasa berat untuk ku namun menjadi hal yang sangat biasa untuk Mas Seno. Meski aku membenci perpisahan tak sepantasnya aku membenci langkah awal untuk meraih kebahagiaan yang sesungguhnya. Bukankah Tuhan menjanjikan pertemuan indah ketika ada perpisahan yang begitu menyakitkan. Aku masih terus tersenyum sampai punggungnya tak terlihat lagi di pelupuk mata.
Semua terasa berbeda. Rasa rindu yang awalnya tiada menjadi ada. Rasa yang seharusnya tak pantas aku berikan untuk laki-laki yang telah menghempaskan aku sekeji ini. Menganggapku tiada dan tak pernah berharga. Semua rasa ini kualami tanpa kubuat-buat. Semua berjalan dengan apa adanya.
***
Ada yang berbeda setelah ia pergi. Aku juga mempunyai hobi baru, menunggu ia mengirimkan pesan singkat untuk ku. Aku juga mempunyai kebiasaan baru, berkhayal Mas Seno akan datang lagi menemuiku dan memintaku kembali padanya. Lagi. Harapanku pupus ketika kuingat bahwa Rahma lah satu-satunya wanita yang mampu membuat ia bahagia. Bukan aku.
Aku berusaha menghibur diri. Kuambil gitar yang tersandar di kursi ruang tamu. Meski tak bisa dengan lincah memainkannya namun aku terus memahami gitar yang ada di tangan. Kupetik senarnya. Tak harmonis. Aku tak bisa memahaminya. Terlalu sulit. Sesulit aku memahami Mas Seno yang sudah seminggu tak ada kabar. Tiba-tiba layar ponselku berkedip. Panggilan masuk. Mas Seno.
"Halo." Suara dari ujung sana menyapaku, namun aku masih diam mau marah. Aku tak bisa.
"Halo mas."
"Dek maaf aku tak memberimu kabar, kakek ku sakit. Maafkan aku." Dia merasa bersalah.
"Hah?" aku terkejut tak percaya.
"Iya kakek sakit ketika aku dari Jogja," terangnya.
"Lalu bagaimana sekarang keadaannya?"
"Sudah membaik, aku sudah berada di depan rumahmmu. Bisa keluar?"
"Kamu bercanda mas?" aku tak percaya.
"Tidak, aku sudah berada di halaman rumahmu." Kumatikan telfon, bergegas ku letakkan gitar, kubuka pintu dan ternyata Mas Seno sudah benar-benar di depan rumahku.
"Aku tak bercanda bukan?" katanya dengan senyum yang khas ketika aku masih diam tak percaya.
"Bagaimana kamu bisa sampai kesini mas?" tanyaku.
"Rahasia week." Dia meledek. Aku luluh. Dengan cara yang unik dia mampu membuatku bahagia.
"Ayo masuk."
"Iya dek."
"Duduk Mas."
"Terimakasih."
"Tunggu-tunggu, kamu bohong kalau kakek sedang sakit?"
"Tidak."
"Lalu kenapa kamu bisa sampai sini lagi Mas?" tanyaku yang lagi-lagi masih tak percaya.
"Iya, aku harus mencari obat untuk kakek. Tokonya hanya ada di Jogja yang paling dekat. Sekalian aku mampir untuk melihat keadaanmu dan meminta maaf karena tak memberi kabar seminggu ini." Dia menjelaskan panjang lebar tentang apa yang telah ia alami.
"Lalu bagaimana keadaan kakek?"
"Ya sudah baik, makanya aku berani kesini"
"Syukurlah."
"Ini gitarmu?" katanya sembari meraih gitar yang berada di sampingnya.
"Iya," jawabku. Ia nampak akan memainkannya.

Kunikmati nyanyian dedaunan
Mengalun manis di mainkan angin
Mengajakku tuk kembali mengenang setahun yang lalu
Kala itu mimpiku dan mimpimu masih menyatu
kala hari saat senja kau bersandar di bahuku
Kita nikmati surya tenggelam
Dan kau tulis nama kita di atas pasir putih
Sambil kau berucap semoga cinta kita kan abadi
Andai saat ini kau ada di sisiku
Ku takkan sendiri dan sekedar mengenang kisah kita yang pernah ada
Sendiri ku kembali mencari cintaku yang hilang
Hamparan pasir putih dan ombak yang bergulung
Jingga mentari senja adakah kau simpan kisahku yang terpendam bersamamu
Yang terbenam bersamamu...

Lagu yang dia nyanyikan begitu indah, seindah ketika jari-jarinya dengan lincah memetik senar gitar milikku. Sesekali dia tersenyum memandang ke arahku. Tentunya sambil beryanyi.
"Kamu semakin jago main gitarnya mas," kataku memuji.
"Kamu semakin tembem pipinya. Baru seminggu kita ngga ketemu."
"Ha..ha..ha.. Apa hubungannya?" aku terbahak. Dia diam sejenak. Lalu menghela nafas.
"Sepertinya kamu bisa tertawa lepas hanya denganku saja."
"Ha..ha..ha.. Terlalu percaya diri kamu," begitu kataku.
"Sekarang aku sudah benar-benar di hadapanmu lagi."
"Iya, dan aku harap kamu tak akan pergi lagi Mas."
"Itu masalahnya dek, aku harus segera kembali ke Semarang. Kakek dan keluarga pasti sudah menungguku."
"Setelah kakek mu sembuh kemudian kamu akan ke Kalimantan lagi?" aku hanya memastikan bahwa dia tak akan membiarkan aku sendirian.
"Aku punya tanggung jawab di sana."
Kata-katanya menggantung. Dia nampak memainkan gitar yang masih ia pegang. Dia benar-benar kembali masuk di kehidupanku dengan status yang tak jelas. Dua tahun lalu ketika aku menggantungkan harapanku padanya dengan entengnya dia pergi begitu saja. Ketika aku sedang cinta-cintanya. Ketika sedang sayang-sayangnya. Bahkan terlalu sayang sehingga melupakannya adalah hal yang begitu pahit, begitu sakit. Dia membawa semua harapanku pergi begitu saja. Tapi kini aku luluh lantah hanya karena suara merdu yang ia keluarkan dan petikan gitar yang ia mainkan begitu menawan. Aku rindu di perhatikan. Aku rindu di perjuangkan. Aku rindu di beri kejutan manis seperti dua tahun yang lalu. Tapi aku harus tahu diri. Pria bertubuh tinggi, berkulit putih, bermata sipit, hidung yang agak mancung ini tak lagi mencintaiku. Mungkin lirik lagu yang ia nyanyikan untukku tadi ia persembahan untuk cintanya yang hilang. Seperti yang ia bicarakan pada pertemuan sebelumnya. Teruntuk cintanya yang hadir setelah aku pergi. Sulit memang untuk melupakannya. Namun sangat mudah untuk sekedar memaafkannya. Dia tak tahu bagaimana aku berjuang sendiri melawan banyaknya kenangan yang selalu berlalu lalang. Tak jarang aku juga harus berpura-pura untuk menunjukkan bahwa aku baik-baik saja. Nyatanya, aku rapuh. Aku menangis dalam diam. Mencintai pun diam-diam, dalam kesunyian. Tak ada yang tahu kecuali Tuhan yang selalu menjadi satu-satunya tempatku berkeluh kesah. Diam-diam kuberanikan hatiku untuk mengintip sedikit kenangan dua tahun yang lalu. Dimana saat itu aku bebas mengutarakan rasa cinta, melampiaskan rindu yang menggunung. Ah, dia satu-satunya pria yang mampu membuat aku cinta seperti ini. Tapi, dia juga yang mampu meracik rasa sakit yang tak ada obat penawarnya. Terlalu sering aku juga berdialog dengan Tuhan. Menceritakan segalanya, dari rasa sakit hingga rasa yang tak sanggup aku ceritakan lagi. Setelah aku mendoakan kedua orang tuaku, keluargaku aku mendoakannya. Iya, meskipun aku tahu bahwa namaku belum tentu selalu ia sebut dalam doanya kepada Tuhan. Beribu cara kutanyakan kepada Tuhan agar aku dapat mengutarakan sedikit rasa rinduku yang semakin sesak bila kutahan. Namun Tuhan masih saja diam. Aku berfikir mungkin Tuhan tak akan membiarkan aku sakit untuk kedua kalinya. Tuhan tak akan membiarkan aku kembali kepada kebodohan. Ya, mencintai lagi laki-laki yang menyakitiku, meninggalkan dan menghempaskan aku bukankah suatu kebodohan?
Mungkin juga Tuhan tahu, andaikan aku mengutarakan rinduku akan ada satu wanita yang terluka di sana. Kekasih mantanku. Wanita yang ia cintai lebih dari dia mencintai aku. Nyatanya, dia lebih memilih wanita itu dan meninggalkan aku. Sekotor itukah aku sampai-sampai aku tak lagi ia butuhkan? Selama dua tahun aku harus kesakitan melihat dengan gamblang kemesraan yang dia pamerkan bersama kekasih barunya. Sementara aku, sendiri mengais-ngais kepingan hatiku yang hancur berantakan. Mereka begitu bahagia. Sedangkan aku berusaha membahagiakan diriku sendiri dengan cara yang aku miliki. Aku jatuh, berusaha bangkit walau tertatih. Meski begitu, aku tak sedikitpun membencinya. Aku berjiwa besar untuk selalu memaafkannya. Karena aku cinta. Seperti aku cinta kepada diriku sendiri. Aku terlalu cinta kepada makhluk Tuhan yang satu ini. Aku percaya, suatu saat dia akan kembali. Dia akan menyesali perbuatannya. Entah kapan namun aku percaya Tuhan mempunyai cara untuk menunjukkan itu semua.
"Apa yang sedang kau pikirkan dek?" Dia meletakkan gitar itu tepat di sampingnya.
"Hah?"
"Apa yang kau pikirkan?" tanyanya sekali lagi.
"Tak ada mas," aku berkelit.
"Bohong."
"Sungguh. Aku tak bohong."
"Tatap mataku," perintahnya.
Hanya beberapa detik saja mata kami sudah beradu pandang. Teduh matanya yang selalu membawa ketenangan, santun tuturnya yang selalu aku rindukan. Bisa kurasakan hembusan nafasnya. Jantungku berdetak lebih kencang.
"Apa kau takut jika aku akan pergi," katanya yang membuat aku menjauhkan wajahku dengan wajah Mas Seno.
"Takut? Tak sama sekali. Bukankah kamu akan kembali ke sini jika kota ini sudah bersahabat denganmu bukan?"
"Ya, aku akan kembali lagi. Kamu sudah seperti adik ku sendiri. Tentu aku akan kembali untuk menemuimu juga."
"Iya mas," aku menjawab sekenanya. Dia hanya menganggapku adik. Orang yang tak ada apa-apanya menurutku.
"Sini mau aku nyanyikan apa lagi?" di ambil gitar yang berada di dekatnya. Ia mainkan melodinya. Sekuat apa pun aku menahan rasa sakit yang aku rasakan, aku tak merasa sanggup. Bahkan melodi yang ia mainkan sudah tak dapat membiusku ke dalam suasannya penuh cinta. Semua ini tak seindah melodi gitar. Luka ini terlalu dalam, bahkan lebih dalam ketika aku mencintainya. Aku tahu ini bukan salah dia. Mungkin ini salahku yang terlalu larut dalam cinta yang bisu. Cinta yang tak pernah kuutarakan seusai perpisahan yang menyakitkan itu. Aku selalu berdoa kelak bukan dia yang selalu aku sebut dalam dialogku dengan Tuhan. Namun nyatanya, dia menjadi parasit dalam pikiranku. Detik itu juga, aku memutuskan untuk berhenti mengharapkannya. Berhenti mengharapkan dalam diam.
 Sejak pertemuan itu aku tak mau menghubunginya. Bukan karena aku benci tapi aku tak mau menggantungkan lagi harapanku padanya. Hanya sesekali kuintip akun media sosialnya. Setidaknya aku tahu dari postingan-postingannya bahwa dia dalam keadan baik-baik saja. Akan kubuang jauh-jauh kenangan yang membuatku berjalan di tempat. Tapi aku salah. Sejauh apapun aku berlari mengindar dan pergi sejauh mungkin darinya semua tak akan hilang begitu saja. Dia masih ada di sini. Di dalam hati. Dia masih menjadi bayang kemana pun aku melangkah.
Aku bukan diriku yang dulu lagi. Aku belajar darinya. Dari masalalu yang tak ada apa-apanya untuk sekedar dikenang. Dari masalalu yang terlalu sulit untuk diingat. Aku juga belajar dari waktu, bahwa untuk sekedar melupakannya tak hanya butuh waktu satu jam, satu hari, satu minggu ataupun satu bulan. Meskipun mencintainya hanya membutuhkan beberapa detik. Jika suatu saat nanti aku dan dia bertemu di waktu yang tepat, mungkin akan banyak dariku yang berubah. Tapi sederhanaku, kebaikanku tak akan sedikitpun kuhilangkan.
Teruntuk Mas Seno, semoga kamu menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Semoga kelak aku bisa lupa akan semua kenangan yang pernah terajut indah. Meski luka ku belum kering, kuharap kamu tak menciptakan luka baru yang dapat memicu kebencian padamu. Aku harus terus berjalan Mas, walau tanpa kamu. Tanpa cinta yang kau titipkan. Meski aku harus tertatih menapaki ini semua tanpamu, kuharap sekali saja kamu membawa namaku dalam doamu. Menyelipkan sebuah pesan kepada Tuhan, meminta kepada-Nya agar Dia menguatkanku. Semoga kamu sempat mengingatku.

Aku pergi membawa cinta dalam kebisuan, dalam diam, dalam doa yang sengaja kusembunyikan~

Selasa, 20 Mei 2014

Hanya Angan, Kapan Nyatanya?

Semua berawal ketika aku terlibat perbincangan hangat bersama sahabat lamaku semasa sekolah. Kita berbicara tentang kebiasaan lucu dan konyol ketika sekolah dulu. Tak sedikit kenangan manis yang tertata rapi. Semua kenangan itu belum porak-poranda meski pelakunya kini entah kemana dan dengan siapa. Niatnya aku tak ingin mengingat semua itu lagi karena bagiku masa yang sudah lalu tak akan terulang.

Aku setengah marah ketika mengingat. Aku setengah kecewa jika aku mereka-reka lagi masa itu. Masa dimana yang kuhadapi hanyalah angan bukan kenyataan. Iya, hanya angan? Kapan nyatanya? Ketika ada wanita lain yang menggenggam tanganmu? Ketika ada wanita lain yang berjalan sejajar bersamamu? Ketika ada wanita lain yang kau perhatikan dengan kata-katamu yang ceplas-ceplos itu?

Em.. hampir 2 tahun semua berlalu. Sepertinya kita tak juga mendapat titik temu. Titik temu? Bukannya hanya aku yang berharap sedangkan kamu tidak? Aku terlalu cepat menafsirkan bahwa semua ini cinta. Bukankah semua ini perhatian biasa yang selalu kamu berikan kepada wanita.

Dunia kita sekarang berbeda walau berada di pulau yang sama. Aku semakin tak lagi kau kenal. Aku sudah semakin jauh. Kau ingat saja tidak. Meski begitu terimakasih dulu sempat menjadi tempat berkeluh kesah. Sempat menjadi semangat meski tak pernah menjadi satu-satunya.

Senin, 19 Mei 2014

Andai Kau tak Datang

Dan jika waktu itu kamu tak datang kembali mungkin aku tak serindu ini. Jarak kita sudah terlalu jauh. Ruang dan waktu juga berbeda. Hatipun sudah tak seperti dulu. Kau kini sudah menjadi milik orang lain. Harusnya aku merasa senang kamu masih mengingatku. Kamu meminta maaf telah menyakitiku, tak membalas semua yang dulu telah ku beri. Tak apa, aku tak pernah mengharapkan apapun darimu. Kecuali kasih sayang yang tulus :')

Aku teringat bagaimana kamu menghempaskanku, mengabaikanku. Bodohnya aku terus bertahan dan membiasakan berteman dengan air mata. Benar, kadang bodoh dan terlalu sayang hanya berbeda sangat tipis. Kamu tak tahu dan tak akan pernah mau tahu bagaimana usahaku, perjuanganku untuk sekedar tak mengingatmu. Tapi seolah-olah yang aku lihat, yang ada di depan mataku, yang ada di sekelilingku mengingatkan tentangmu.

Ternyata kamu tak benar-benar membawa kenangan kita pergi. Kamu menitipkannya padaku. Buktinya aku masih bisa dengan jelas melihat dan mengingat semua itu. Tenang, rasaku sudah tak seperti dulu. Aku hanya ingin bernostalgia dengan masa lalu.

Apa yang masih sering kamu ingat tetangku? Ah bodoh. Tentunya kamu sudah tak akan mengingat-ingatku lagi. Beberapa bulan yang lalu hanya sekedar membalas sapaku kamu enggan. Tapi aku masih mengingatmu, hanya mengingat. Teduhnya matamu , senyummu yang aneh, tingkahmu yang polos, sikapmu yang sederhana, sifatmu yang dewasa kadang-kadang kekanak-kanakan dan semua hal manis-manis masih ku ingat. Bukan hanya hal-hal manis yang aku ingat. Nampakya masih banyak hal yang membuat aku terluka juga masih membekas hingga sekarang. Namun aku sudah tak mau mempermasalahkan. Yang harus kamu tahu saat ini kita telah berbeda ruang dan waktu. Aku tak pernah membencimu. Aku masih menganggapmu ada, hanya perasaanku sudah lain. Mungkin kamu juga telah bahagia dengan seorang yang kamu inginkan , bukan yang kamu butuhkan.

Aku menyayangimu, keluargamu, sahabat-sahabatmu. Andaikan kamu datang kembali, semoga aku tak serindu ini. Semoga aku sudah tak mengingatmu sebagai masa laluku.

Minggu, 03 November 2013

Aku perindumu !

Aku perindu perhatian. Aku perindu kasih sayang. Kututup mata dan telinga untuk melihat senyum manis dan perhatian-perhatian kecil yang tercipta dari si pelaku yang akan menebar harapan palsunya. Tapi ternyata aku tetap saja berharap. Sosokmu yang tiba-tiba hadir. Membuat pagiku lebih terasa berwarna, membuat hariku menjadi lebih berharga dan membuat hidupku menjadi bermakna. Ah semua berebihan..

Pada intinya aku adalah seorang wanita yang takut jatuh cinta. Terlalu baik, terlalu di kontrol oleh emosi, rindu, kangen, cemburu dan semacamnya. Aku takut dan lelah. Tapi kenapa? pria yang sebentar lagi akan pergi dari kota seindah ini hadir di hidupku?

Perasaan aneh ini sudah muncul seminggu setelah perkenalanku dengan pria berpostur sedang itu. Aku kangen jika tak saling mengirim pesan BBM. Aku takut ketika dia menuliskan bahwa dia sedang sakit. Aku ikut bahagia jika skripsi yang dia kerjakan berjalan lancar. 

Tuan, kurasa aku sudah mulai jatuh hati kepadamu. Kumohon jangan kau beri harapan yang berlebihan. Aku takut. Kumohon. Jika kau tak benar-benar ingin menjadikanku tujuan tinggalkan aku detik ini juga. Namun jika aku ini penting untukmu beri aku kepastian. Jangan buat tidur malamku tak nyenyak dan berkurang hanya untuk memikirkanmu. 

Aku perindu perhatian sekaligus perindumu.

Sabtu, 20 Juli 2013

2 Juli Satu Bulan Setelah Ulang Tahunmu

Senin, 3 Juni 2013

Sehari setelah ulang tahunmu. Cup cake dengan 2 lilin, sederhana tapi bermakna bagiku. Bersama sahabat-sahabatmu ku gedor pintu kamar. Dengan muka yang kusut, rambut berantakan dan baju acak-acakan karena terbangun dari tidur siangmu. Kau tiup lilin pada cup cake yang aku pegang. Mungkin buatmu yang kulakukan hanyalah buang-buang waktumu saja. Tak ada hadiah spesial yang aku persiapkan. Aku hanya punya sekeping CD yang menyimpan beberapa slide foto di dalamnya. Tak berharap banyak, aku tak meminta lebih. Tapi yang aku dapatkan petang itu hanya perhatian tak acuh. Lelahku terbayar rasa sakit. Ku kira detik itu aku akan bahagia sepertimu tapi dugaanku 100% salah. Dan aku tersadar detik itu aku benar-benar kehilanganmu...

Juniku terasa hambar. Sayatan-sayatan kecil terasa pilu ketika aku melewati beberapa tempat yang sering aku kunjungi bersamamu. Ingatan yang seharusnya aku lupakan kembali muncul di permukaan seperti tayangan langsung yang harus aku lihat. Kau begitu mendalam. 

Tapi bukankah hidupku harus terus berjalan ada ataupun tanpamu? Dahulu sebelum kau datang dan membual dengan kata-kata manismu hidupku baik-baik saja dan itu artinya aku juga akan baik-baik saja bila kau pergi. Aku bersyukur terlepas dari jeratmu. Aku tak marah apalagi kecewa. Hanya aku tak menyangka pria polos dan baik sepertimu mampu menyakiti aku yang keras kepala ini.

Tak ada lagi nomor mu tertera di layar handphone ku, karena memang benar untuk melupakanmu aku harus menghapus nomor ponselmu pula. Satu bulan penuh aku tak pernah memutar lagu kesukaan kita, aku tak pernah melalui jalan yang sering kita lalui, aku tak pernah menyentuh gitar kesayanganku karena gitar adalah benda kesayanganmu, aku tak pernah makan di tempat biasa kita sering makan dan aku benar-benar ingin melenyapkan semua kenangan yang berhubungan denganmu.

Aku berhasil. Aku sudah baik-baik saja. Tak ada lagi rasa sakit ketika aku memutar lagu kesukaan kita, tak ada pula bayangan wajahmu ketika aku melewati jalan yang sering kita lewati. Aku benar-benar melenyapkanmu. Tapi...

2 Juli 2013

Aku mengira sahabatku bergurau saat mengira dia sedang melihatmu. Setelah ku pastikan  ternyata itu bukan kau dia hanya seseorang yang mirip denganmu. Hal yang tak ku duga ketika aku menoleh kebelakang sosokmu nyata. Di atas sepeda motor kesayangan mu kau lajukan motor ke arah yang ku ketahui. Kost seseorang yang katamu tak pernah akan kau jadikan kekasihmu. Entah setan apa yang merasuk ke dalam ragaku yang kalab. Aku diam-diam mengikutimu. Dan ternyata aku melihat yang seharusnya tak ku lihat. Kau berboncengan mesra dengan wanita itu. Persendian ini terasa lemas, sepeda motor yang ku pacu seketika menjadi pelan lajunya, mata ikut berkaca-kaca ketika sahabatnya sakit (hati). Dapat aku simpulkan bualanmu hanyalah omong kosong yang seharusnya dulu tak pernah aku percaya. Sebulan yang lalu kamu memohon, mengemis agar kedekatanmu dengan wanita itu tak ku beberkan pada sahabat-sahabat mu.  Pikiranku kacau. Aku kembali lagi ketempat semula , sialnya aku berpapasan lagi dan dengan tampang polos kamu klakson aku. Ah pria macam apa kau ini tak punya perasaan !!


Selasa, 14 Mei 2013

Kau Pria Yang tak Percaya Cinta

Ini jalan yang ku pilih untuk tetap bersamamu setelah perpisahan itu. Kita tak benar-benar berpisah. Status kita yang berbeda. Ternyata kau tak banyak berubah setelah kejadian itu. Kau masih sama seperti dahulu menganggapku sama seperti mantan kekasihmu. Sampai kapan kau akan mengira aku akan menduakan mu? sampai kapan kau akan mengira aku akan meninggalkanmu dan menghempaskan kamu sendirian dalam sunyi? pernahkan aku membiarkan kamu menyelesaikan masalahmu sendiri? pernahkah aku berlari menjauh saat kamu berada di posisi yang paling rendah pada hidupmu? Tidak kan..

Aku berusaha mengabaikan rasa sakitku untuk menciptakan bahagiamu. Aku selalu tak memperdulikan masalahku sendiri. Aku selalu sibuk, sibuk memikirkan cara-cara agar kau selalu bahagia. Hmm bahagiamu kan bukan pada diriku :)

Kau pria yang tak percaya cinta. Bukankah kau dulu kau yang mengajarkan aku bahwa cinta itu indah. Tapi kau sendiri yang tak mempercayainya. Bahkan kau tak bisa membedakan siapa yang benar-benar mencintaimu atau sekedar kagum denganmu.

Tak ada kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sosokmu. Namun tiada hari untuk tak membicarakanmu dalam perbincanganku dengan Tuhan. Apa kau demikian?

Ingin rasanya aku terlepas dari jeratmu. Aku lelah berpura-pura tak mendengar saat kau sebut-sebut namanya di depan mukaku.  Aku lelah berpura-pura baik-baik saja. Ah aku merindukan kamu yang dulu, aku selalu merindukan sosokmu yang dahulu :(


Sabtu, 16 Maret 2013

Apa salahnya jika Ibumu penjual jamu dan ayahmu petani?

"aku hanya anak seorang penjual jamu, ayah ku seorang petani. Apa kamu mau dengan anak penjual jamu dan petani?"

Aku tau, kamu sedang mencoba meragukan pilihan ku. Kamu sedang berusaha membuat aku mundur menjauhi mu. Tapi kamu salah. Selama kamu belum enyah dari hadapan ku mungkin aku tak akan mundur. Bukannya aku mengemis menunggu cintamu, tapi kamu sendiri yang meyakinkan aku kalau kamu juga tak akan mundur. Tapi kenapa, sekarang dengan gampangnya kau mempermainkan aku seperti boneka barbie? bukankah pria sejati tak akan memainkan boneka barbie?
Apa salahnya jika orangtua mu penjual jamu dan petani? bukankah itu pekerjaan halal? ini memang terlampau jauh untuk mengikut campurkan orangtua kedalam masalah kita. Status saja tidak jelas kenapa harus ada orangtua di dalam hubungan kita.

Aku malas memikirkan ini. Terlebih memikirkanmu walau tanpa sengaja. Kamu hebat mampu merasuk menelusup di rongga pikiranku. Bahkan saat kamu sudah tidak menjadi kekasihku lagi. Bukan sesuatu hal yang baru, dulu kau yang meninggalkan aku dengan alasan-alasan klasikmu. Ya alasan yang tak logis menurut ku. Tetap saja aku tak dapat membencimu setelah perpisahan itu. Semakin hari justru aku dan kamu semakin akrab. Dekat, seperti dulu.

Aku selalu mendekap mu dalam doa, tak letih ketika aku memohon ampun kepada Tuhan aku menyelipkan kita . Doa biasa sebenarnya "jika berjodoh dekatkan jika tidak hilangkan rasa ini dan biarkan dia mendapatkan yang lebih baik begitu juga dengan ku". Tapi Tuhan selalu mendekatkan kita dengan pertemuan-pertemuan yang tak terduga. Apa itu jodoh? semoga tidak.

Ah aku tak tau, aku terlalu muda untuk memikirkan itu. 

"kamu bisa menerima keadaan keluargaku, tapi bagaimana dengan orangtuamu bila tau anaknya mendapatkan mertua penjual jamu dan petani? cukup aku terluka dengan masalaluku dan cukup membuat orangtuaku malu"

Terus saja mengoyahkan pendirianku. Aku tetap bertahan sebelum kau yang mundur.  Jika memang kelak aku berjodoh denganmu aku punya dua tangan, punya dua kaki punya tenaga dan pikiran. Aku bisa bekerja.

Jika kau menginginkan aku pergi baik, aku akan pergi tapi bukan untuk sekarang. Aku akan pergi setelah tugas ku selesai. Menjagamu di kota pelajar ini~




Senin, 11 Februari 2013

Setelah Semua Usai

Sosok sederhana. Tak begitu tampan dengan kulit bersih badan tegap tak terlalu besar ataupun kecil. Seseorang yang dulu cerewet dengan ulah konyolku. Seseorang yang selalu mengkhawatirkanku. Semua telah usai. Aku merindukannya, aku merindukan sosok itu.

Cinta dan sayang yang tak mampu bertahan memaksa kami harus saling melepas setelah kami sama-sama berjuang. Awalnya kami saling menyayangi sebelumnya harus saling menyakiti dan melupakan satu di antara yang lain. Kisah yang tak sempurna sesempurna mimpi-mimpi yang sempat kami rajut. Semua telah usai.

Tak ada lagi yang bisa ku banggakan. Tak ada lagi tangan lembut yang mengusap kepalaku saat aku merindukan keluargaku di sana. Tak ada lagi yang meledekku "pipi tembem" "hidung pesek" "bibir kecil tapi memble". Ah aku merindukannya Tuhan..

Tak munafik. Bayang-bayangnya selalu menjadi sosok yang harus ku hindari. Seolah menempel di setiap aku berjalan kemanapun untuk menghindar darinya. Selalu saja dia tak pernah absen dari mimpiku. Selalu saja dia yang ku ingat setiap aku hendak memejamkan mata ataupun membuka mata setelah aku tertidur. Berhentilah berputar di otakku. Ku mohon, semua telah usai.

Sialnya aku tak bisa membencinya. Setiap kata yang terlontar dari bibirnya selalu saja bisa ku maafkan. Setiap perbuatannya selalu saja bisa ku ampuni. Padahal semua telah usai.

Secepat itu aku terlupakan. Secepat kisah antara aku dan dia. Sesingkat perkenalanku dengannya. Ajari aku melupakan mu!! Ku mohon..

Apa kamu masih sering merindukan aku saat semua ini telah usai? Ah pertanyaan bodoh, tentu saja tidak. Mungkin dia sudah menemukan cintanya yang baru. Sedangkan aku disini masih mengais-ngais kenangan ku bersamanya. Padahal aku tahu, hidupku masih bisa terus berjalan tanpa dia.

Sabtu, 09 Februari 2013

Yang Paling Indah ya PDKT !!

Masa PDKT atau pendekatan itu paling indah. Iyalah secara mau ngedapetin hati cewe yang di suka ya dengan kata-kata manis tentunya. Segala jurus di keluarkan, dari rayuan sampai perhatian maut yang bikin cewek klepek-klepek. Akhirnya cewe menyerah, merasa nyaman dan berbalas perhatian. *pengalaman* -_-

Setiap pagi selalu namanya yang tertera di layar ponsel ku. Dialah orang pertama yang selalu mengucapkan selamat pagi buatku. Awalnya aku acuh menanggapinya, risih mungkin karena tak pernah diperlakukan seperti itu. Aku menyerah, aku merasa tak enak karena dia seniorku. Aku harus lebih sopan dengannya. Lama kelamaan semakin akrab dan komunikasi semakin intens. Yaaaaa seperti yang bisa di tebak. Saling perhatian, saling cemburu, saling khawatir dan bla bla bla.. tanpa status tentunya.

Aku tak mau memperlihatkan perasaanku, karena aku masih ragu ini hanya sementara atau ini akan bertahan sampai kami benar-benar ada status. Aku masih meyakinkan diriku sendiri dengan sebuah kalimat dari seseorang yang sampai saat ini masih aku ingat "Jatuh cintalah saat kamu benar-benar siap, jangan jatuh cinta hanya karena kamu kesepian".

Aku menimbang-nimbang semua perasaanku, dan dia mengutarakan. Sehari dua hari sampai tiga hari masih dia yang mengisi hari-hariku. Dia menghipnotisku untuk terus jatuh cinta kepadanya. Dia tak banyak biacara. Namun perlakuan manisnya membuat setiap wanita jatuh cinta. Siapa yang ngga jatuh cinta kalo tiba-tiba mau ke kampus nganter jas ujan, siapa yang ngga jatuh cinta tengah malem mau ke kost nganter makanan, siapa yang ngga jatuh cinta hampir setiap malam petikan gitar dan suara merdunya itu memenuhi gendang telingaku dengan nyanyian romantis yang mampu menghapus masa laluku.

Sial, aku benar-benar jatuh cinta !!
Aku tak mampu menolak dan bibirku spontan menjawab "iya" saat dia menyatakan perasaannya dihadapanku dengan tatapan yang benar-benar membuat aku enggan berkedip. Ah masa PDKT itu telah usai -__________-

Sudah ada status yang jelas di antara kami. Berpacaran. 
Awal dari beberapa masalah, pikirku. Aku harus siap merasakan yang namanya rindu, cemburu bahkan marah-marah tidak jelas. Mempunyai pacar anak kuliahan semester akhir juga harus ekstra ekstra sabaaaaaaar. Usia yang terpaut 4tahun mungkin juga membuat kami banyak perbedaan. Bukankah berbeda itu indah? :)

Aku selalu meyakinkan hatiku jika perbedaan itu indah.Tapi kalo sudah seperti ini? ini terlalu banyak perbedaan. Dia suka melukis dan aku suka menulis tapi dia sama sekali tak mau membaca bahkan sekedar melihat. Bukankah dia juga bisa menjadi ilustratorku dengan begitu kami saling melengkapi !!
Aku sangat menghargai waktu sedangkan dia hanya membuang-buang waktunya. Sadar sayang, skripsi di depan mata dan kelulusan mu sebentar lagi. Kamu akan segera pergi dari daerah Istimewa ini dan pergi ke Kalimantan seperti impianmu menjadi guru disana dan bertemu keluargamu.

Ah keindahan itu hanya bertahan sebentar, perhatian itu tak bertahan lama. Aku melindungi dia dengan cara yang salah. Aku terlalu mengkhawatirkan keadaannya. Aku terlalu lebay mungkin tak bisa membiarkan dia lecet sedikit pun. Sayang, aku cuma engga mau kamu kenapa-kenapa!! aku sadar dan aku tau kamu sudah dewasa dan bisa menjaga dirimu sendiri. Tapi kamu jauh dengan orangtua butuh beberapa hari untuk bertemu mereka, sedangkan aku orang yang paling dekat dengan mu. Selama aku bisa, aku akan melindungmu. Aku menyuruhmu pamit saat kau pergi semata-mata biar aku tau dan gampang mencari kalo kamu kenapa-kenapa. Setiap sore aku masak dan bawa ke kost mu bukan untuk ketemu kamu, tapi aku ingin memastikan kamu baik-baik saja dan sudah makan. Aku menyuruhmu mencuci baju di saat waktu luangmu bukan karena apa-apa tapi biar kamu tak terlalu lelah. Lebay siii .....

Pacaran itu 2 orang yang terlibat didalamnya. Saling memperjuangkan. Saling menguatkan jika satu diantaranya lemah, saling melengkapi jika ada yang kurang. Saling menghibur jika ada yang sedih. Saling menopang jika ada yang lelah. Bukan saling menyakiti seperti ini. Ya seperti yang dia lakukan. Katanya aku posesif. Memang, aku sangat-sangat posesif. Sekarang hanya aku yang berjuang mempertahankanmu yang berhasil membuat aku jatuh cinta (lagi).


setelah kau hadir saat aku ingin menghapus mereka
bibirku kelu saat aku kagum
ku berikan satu kesempatan itu untuk kamu
namun kau sia-siakan
bodohnya aku membiarkan kau menari di atas kesedihanku
tak apa, aku bahagia (kelak)
aku masih di sini bukan untuk kau cintai
aku di sini untuk melindungimu
dan bila tiba waktumu pergi
pergilah, temui cinta yang sungguh-sungguh mengerti kamu
temui dia yang mengerti akan kemauanmu
temui dia yang selalu bisa membuat kamu bahagia
mungkin kita akan lebih baik
kau akan lebih bahagia
tapi aku akan lebih bahagia darimu
dan bila memang itu terkadi

untuk kamu yg tak pernah membaca ini "EP"

Jumat, 01 Februari 2013

AKU BODOH !!!!

A : sebenernya semua ini masih bisa di lanjutkan engga?

E : ya mungkin masih bisa.

A : mungkin? harusnya kamu lebih tegas, kamu seorang lelaki calon kepala keluarga dan imam buat keluargamu kelak.

E : ini masalah yang kemaren? apa aku salah ngelakuin hobiku?

A : engga ada yang salah. Hanya kamu engga bisa bagi waktu buat aku, kamu hanya memikirkan kesenangan mu padahal aku butuh kamu. Aku sedang terpuruk.

E : Jangan nangis. Aku minta maaf kalo aku salah.

A : aku engga nangis, kamu juga ga salah. Aku yang salah engga pernah mau mengerti hal-hal yang kamu sukai. Aku hanya terbenam dalam rindu.

E : Maafkan aku membuatmu menangis.

A : Lihat mataku, lihat aku. Di dalam hatimu kamu jenuhkan? kamu lelah dengan semua ini? kamu tak bahagia dengan ku?

E : aku juga ngga tau dengan hatiku, aku takut menyakitimu dan awalnya aku bahagia. Kamu terlalu baik.

A : Lalu sekarang kamu tak bahagia? kenapa kamu engga lepas aku? aku terlalu baik katamu? aku juga bisa jadi orang jahat tapi aku ngga mau.

E : Entah aku tak tahu, nanti siapa yang baik sama aku kalo aku lepas kamu? siapa yang nasehatin aku? siapa yang ngerawat aku kalo sakit? aku takut kamu menjauh.

A : Kita kenal baik-baik, kalo memang semua harus berakhir semua juga bisa secara baik-baik.

E : aku berat nglepas kamu, aku ngga sanggup.

A : kamu cuma tidak mau mencoba, kamu terbayang masa lalumu. Lalu buat apa kau dulu mendekatiku?

E : aku ingin punya pacar.

A : tanpa kau menyayanginya? kau mengabaikan? oke aku sudah terbiasa di abaikan, aku sudah terbiasa mencintai dalam diam.

E : sudahlah sayang, jangan ragu sama aku. Aku tetap sayang kamu.

Dan entah, aku yang terlalu bodoh atau pemaaf. Sepertinya aku memang bodoh mempertahankan seseorang yang sudah jelas tak mencintaiku. Mungkin aku terlalu sayang, karena hanya dia yang sempat ku perhatikan di jarak yang sangat dekat. Aku hanya terlalu takut, aku tak bisa mengendalikan ego ku.

Sebelum dengannya aku selalu menjadi penguat sahabatku "buat apa nangisin orang yang ga tepat, Tuhan maha tau mana yang terbaik buat kamu buka mata dan buka hatimu"
Ternyata sekarang semua terjadi kepadaku sendiri, mau menyerah tapi aku tak tahu cara mengakhiri.
Sementara aku bertahan dengan kenangan yang terlalu banyak itu sebelum akhirnya akan aku lupakan.


Kamis, 17 Januari 2013

entah :)


Kamu tak luput ku sebut saat aku bercerita dengan Tuhan. Awalnya aku tak yakin bisa jatuh cinta lagi. Aku meragu dengan yang namanya cinta. Namun saat tangan kita berjabat dan saling menyebutkan nama, awal kita berkenalan binar cinta itu ada lagi. Aku mencoba menepisnya sayang, namun tak bisa. Cinta ternyata telah merasuk ke dalam jiwa kita. Seiring berjalan waktu kita saling mengagumi. Kita bercerita tentang masa lalu kita yang sangat menyakitkan. Dan suatu hari aku dan kamu menjadi kita , kita yang saling memiliki dan mencintai kata orang.
Aku sakit ketika kau tak mempercayaiku. Padahal awalnya aku bahagia saat sela tangan ku erat menyatu dengan sela jemari tangan mu. Pundak mu kau serahkan untuk ku sandari. Air mataku yang menetes kau hapus dengan tangan mu. Kau tenangkan aku dengan petikan gitar dan suara merdumu. Sungguh aku telah melupakan masa laluku. Tapi apa kau juga telah melupakan masa lalu mu sayang?
Aku terlanjur tak bisa berpaling. Rasanya aku berhenti pada satu titik yaitu kamu !! Kamu memang bukan yang ku inginkan. Tapi kau selalu ada saat aku membutuhkan. Saat aku terbaring lemah kau yang merawatku. Saat aku merindukan orang-orang yang ku kasihi, kau memeluk ku erat dan mencoba mendamaikan pikiran ku. Jangan pernah berubah sayang. Kau memilih aku. Harusnya kau telah melupakan masa lalu mu. Jangan pernah takut melangkah bersama ku. Aku tak sama dengannya sayang. Aku pernah tersakiti sama seperti mu. Tak mungkin aku menyakiti orang yang meyakinkan ku dengan cinta.
 Yang aku kangenin dari kamu banyak, ngga ke itung -_-
Tiap aku mampir ke kost kamu udh di depan pintu senyum" sendiri dan selalu bilang "dek motornya standarin dua jangan lupa kunci stang"
dan aku juga kangen saat kita masak bareng rebutan nyuci piring hahaha :D
Tiap aku mau pulang kamu bilang "memble jangan pulang" setdaaaaaah -_-"













ini ulah kamu foto-fotoin aku ngga jelas sambil bilang "mana memblenya mana" errrrr -_____-

















aku juga kagum setiap kuas yang kau pegang menggores kanvas dan melukis sesuatu yang ngga jelas tapi hasilnya sangat indah :')
maaf setiap kali aku bilang "lukisannya jelek" tapi sesungguhnya aku kaguuuuum :*


 keisengannya yang lain :|